Jakarta, [Tanggal Saat Ini] – Pasar minyak global mengalami guncangan dahsyat pada hari Senin, dengan harga minyak mentah melonjak tajam lebih dari 8% akibat laporan yang belum dikonfirmasi mengenai penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Kekhawatiran akan konflik yang meningkat antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang berpotensi mengganggu pasokan minyak dunia secara signifikan, memicu kepanikan di kalangan investor dan pelaku pasar.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), patokan harga minyak AS, ditutup pada USD 72,74 per barel, melonjak USD 5,72 atau 8,4% dari harga pembukaan. Kenaikan ini semakin dipercepat setelah jam perdagangan resmi ditutup, menyusul berita yang beredar tentang klaim Iran yang menutup Selat Hormuz, jalur maritim vital yang menjadi urat nadi perdagangan minyak global. Sementara itu, minyak mentah Brent, yang menjadi acuan harga internasional, mengalami lonjakan yang lebih dramatis, naik 9% atau USD 6,65 menjadi USD 79,45 per barel.

Level harga ini adalah yang tertinggi sejak Juni 2025, ketika ketegangan antara AS dan Iran mencapai puncaknya setelah serangan udara yang dilakukan oleh AS dan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran. Bahkan, selama sesi perdagangan berlangsung, harga minyak sempat meroket lebih dari 12% sebelum akhirnya mengalami koreksi dari level tertinggi hariannya. Volatilitas yang ekstrem ini mencerminkan ketidakpastian dan kecemasan yang mencengkeram pasar.

Pemicu Kepanikan: Pernyataan Kontroversial Garda Revolusi Iran

Katalis utama yang memicu lonjakan harga minyak adalah laporan yang mengutip pernyataan seorang komandan Garda Revolusi Iran. Dalam laporan tersebut, komandan tersebut mengklaim bahwa Selat Hormuz telah ditutup dan memperingatkan bahwa setiap kapal yang mencoba melintas akan menjadi sasaran. Pernyataan ini, yang belum diverifikasi secara independen, langsung memicu alarm di kalangan pelaku pasar yang khawatir akan terganggunya pasokan minyak dari Timur Tengah.

Situasi diperparah dengan laporan tentang serangan udara besar-besaran yang dilancarkan oleh AS dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan sebelumnya. Serangan tersebut dikabarkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta sejumlah pejabat tinggi lainnya. Kehilangan kepemimpinan yang tiba-tiba ini menciptakan kekosongan kekuasaan dan ketidakpastian politik di Iran, produsen minyak terbesar keempat di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Respons pasar minyak terhadap peristiwa ini sangat bergantung pada apakah konflik tersebut akan menyebabkan gangguan berkepanjangan terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur pelayaran yang sangat penting, yang menghubungkan produsen minyak utama di Timur Tengah dengan pasar konsumen di seluruh dunia. Setiap gangguan signifikan terhadap lalu lintas di selat ini dapat memiliki konsekuensi yang luas bagi ekonomi global.

Analisis Mendalam: Dampak Potensial Terhadap Pasar Minyak

Para analis dari berbagai lembaga keuangan terkemuka telah mengeluarkan catatan penelitian yang menganalisis dampak potensial dari krisis ini terhadap pasar minyak. Henri Patricot, seorang analis di UBS, menyatakan dalam laporannya, "Kami melihat kecepatan pemulihan lalu lintas melalui Hormuz dan tingkat pembalasan Iran sebagai kunci untuk harga minyak dalam beberapa hari mendatang."