Awal Maret 2026 menjadi saksi bisu meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, dengan pusat perhatian tertuju pada potensi penutupan Selat Hormuz. Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) telah menciptakan gelombang ketidakpastian di pasar energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi lalu lintas minyak dunia. Jalur sempit ini memegang peranan krusial dalam perekonomian global, menjadi urat nadi yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia setiap harinya. Sebuah skenario penutupan, betapapun singkatnya, akan memberikan dampak yang sangat besar, mengirimkan riak melalui rantai pasokan global dan berpotensi memicu kekacauan ekonomi.
Wahyu Laksono, seorang pengamat komoditas terkemuka dan pendiri Traderindo.com, menekankan bahwa eskalasi militer yang sedang berlangsung telah memicu kekhawatiran serius di kalangan pelaku pasar. Dalam wawancaranya dengan Liputan6.com pada Minggu, 1 Maret 2026, Wahyu Laksono menyatakan, "Kondisi geopolitik yang memanas antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat pada awal Maret 2026 ini memang menciptakan guncangan signifikan pada pasar komoditas global."
Kekhawatiran utama berpusat pada potensi gangguan atau bahkan penutupan total Selat Hormuz. Dampak langsung dari ancaman ini adalah lonjakan harga minyak dunia. Wahyu Laksono memperkirakan bahwa harga minyak mentah Brent dapat melampaui angka USD 80 hingga USD 100 per barel jika konflik terus berlanjut selama lebih dari dua minggu. Skenario yang lebih buruk, seperti blokade total atau serangan terhadap infrastruktur energi utama di kawasan tersebut, dapat mendorong harga minyak hingga mencapai USD 120 per barel atau bahkan lebih tinggi. Lonjakan harga yang signifikan ini akan memiliki konsekuensi yang luas, mempengaruhi biaya transportasi, produksi, dan inflasi di seluruh dunia.
Pasar saat ini sudah mencerminkan "premi risiko geopolitik," yang berarti bahwa harga komoditas telah meningkat untuk memperhitungkan kemungkinan gangguan pasokan. Investor dan pedagang memperhitungkan ketidakpastian yang melekat dalam situasi ini, yang menyebabkan peningkatan volatilitas dan kehati-hatian di pasar. Premi risiko ini berfungsi sebagai barometer kekhawatiran pasar, menunjukkan tingkat keparahan yang dirasakan dari potensi gangguan.
Dampak dari konflik ini tidak terbatas pada minyak. Komoditas lain, seperti emas, juga mengalami peningkatan permintaan karena investor mencari aset "safe haven" di tengah ketidakpastian. Emas secara tradisional dianggap sebagai penyimpan nilai yang aman selama masa gejolak ekonomi dan politik, dan kenaikan permintaannya mencerminkan kekhawatiran yang meluas tentang stabilitas global. Selain itu, pengiriman gas alam cair (LNG) juga terancam terganggu, yang berpotensi menyebabkan kekurangan energi dan lonjakan harga di negara-negara yang bergantung pada LNG sebagai sumber energi utama.
Wahyu Laksono menekankan bahwa situasi ini sangat dinamis dan tidak dapat diprediksi, dengan masa depan pasar komoditas sangat bergantung pada lintasan konflik. "Situasi ini sangat cair dan sangat bergantung pada apakah konflik ini tetap terlokalisasi atau meluas menjadi perang regional yang lebih panjang," jelasnya. Jika konflik tetap terbatas pada wilayah tertentu, dampaknya pada pasar global mungkin lebih terbatas. Namun, jika konflik meluas menjadi perang regional yang lebih luas, konsekuensinya bisa menjadi bencana, yang menyebabkan gangguan yang meluas pada perdagangan dan ekonomi global.
Penutupan Selat Hormuz akan memiliki konsekuensi yang sangat luas, melampaui dampak langsung pada negara-negara pengekspor dan pengimpor minyak. Biaya logistik global akan melonjak karena kapal harus mencari rute alternatif yang lebih panjang dan lebih mahal. Peningkatan biaya transportasi ini akan diteruskan kepada konsumen, yang menyebabkan inflasi yang lebih tinggi dan penurunan daya beli. Selain itu, pasar keuangan internasional akan mengalami peningkatan volatilitas karena investor bereaksi terhadap ketidakpastian dan risiko yang terkait dengan konflik tersebut.
Dampak Rantai Pasok Global
Penutupan Selat Hormuz akan menciptakan efek riak di seluruh rantai pasok global. Perusahaan yang bergantung pada minyak dan gas untuk operasi mereka akan menghadapi peningkatan biaya dan potensi gangguan produksi. Ini dapat menyebabkan kekurangan barang dan jasa, yang selanjutnya memperburuk tekanan inflasi. Industri seperti transportasi, manufaktur, dan pertanian akan sangat terpukul oleh peningkatan biaya energi.