Jakarta, Indonesia – Pasar minyak global mengalami guncangan hebat pekan ini, dengan harga minyak mentah Amerika Serikat mencatatkan kenaikan mingguan terbesar dalam sejarah perdagangan berjangka. Pemicunya adalah meningkatnya ketegangan dan konflik di Timur Tengah, yang menimbulkan kekhawatiran serius tentang gangguan pasokan energi global. Lonjakan harga ini bukan hanya sekadar fluktuasi pasar, melainkan sinyal potensi krisis energi yang dapat mengguncang perekonomian dunia.
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) berjangka, yang menjadi acuan utama harga minyak AS, melonjak tajam sebesar 12,21% atau USD 9,89 dan ditutup pada USD 90,90 per barel pada perdagangan Jumat (Sabtu waktu Jakarta). Sementara itu, harga minyak Brent, yang menjadi patokan harga minyak global, juga mengalami kenaikan signifikan sebesar 8,52% atau USD 7,28 dan ditutup pada USD 92,69 per barel.
Kenaikan ini mengukuhkan rekor baru bagi pasar minyak. Harga minyak mentah AS melonjak 35,63% untuk kenaikan mingguan terbesar dalam sejarah kontrak berjangka sejak tahun 1983. Harga minyak Brent juga mencatatkan rekor dengan melonjak sekitar 28% untuk kenaikan mingguan terbesar sejak April 2020, ketika pasar terguncang oleh pandemi COVID-19 dan perang harga antara Arab Saudi dan Rusia.
Pemicu Utama: Konflik dan Ketegangan di Timur Tengah
Akar dari lonjakan harga minyak ini terletak pada konflik yang semakin intensif di Timur Tengah. Eskalasi ketegangan, yang dipicu oleh berbagai faktor termasuk persaingan regional, intervensi asing, dan masalah keamanan yang belum terselesaikan, telah menciptakan lingkungan yang sangat tidak stabil.
Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap ketegangan ini adalah meningkatnya retorika antara Amerika Serikat dan Iran. Pada hari Jumat, Presiden Donald Trump mengeluarkan pernyataan keras yang menuntut "penyerahan tanpa syarat" dari Iran. Pernyataan ini, yang dianggap oleh banyak pihak sebagai eskalasi yang signifikan, meningkatkan kekhawatiran akan perang berkepanjangan yang dapat mengganggu pasar minyak dan gas global secara drastis.
Selain itu, perang tersebut telah menyebabkan gangguan signifikan terhadap lalu lintas maritim di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi urat nadi pasokan energi global. Selat Hormuz adalah jalur sempit yang terletak di antara Oman dan Iran, dan merupakan satu-satunya jalur laut dari Teluk Persia ke laut lepas. Setiap hari, jutaan barel minyak mentah dan produk minyak bumi melewati Selat Hormuz, menuju pasar-pasar di seluruh dunia. Jika jalur ini terganggu, pasokan energi global akan terancam.
Ancaman Terhadap Ekonomi Global
Menteri Energi Qatar, Saad al-Kaabi, memberikan peringatan keras tentang potensi dampak dari gangguan pasokan minyak. Dalam wawancaranya dengan The Financial Times, Kaabi menyatakan bahwa harga minyak mentah dapat melonjak hingga USD 150 per barel dalam beberapa minggu mendatang jika kapal tanker minyak tidak dapat melewati Selat Hormuz.