Jakarta, 9 Maret – Pasar energi global dikejutkan oleh lonjakan harga minyak mentah yang dramatis pada Minggu, 8 Maret 2026. Harga minyak dunia menembus angka psikologis USD 100 per barel, memicu kekhawatiran tentang dampak inflasi dan potensi resesi global. Kenaikan harga ini dipicu oleh kombinasi faktor geopolitik yang kompleks, terutama eskalasi konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz yang strategis.

Perang yang sedang berlangsung antara Iran dan negara-negara tetangga telah menciptakan ketidakpastian yang mendalam di pasar energi. Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menghubungkan produsen minyak Timur Tengah dengan pasar global, menjadi titik panas konflik. Ancaman Iran untuk menutup selat tersebut telah mendorong produsen minyak utama di kawasan tersebut untuk memangkas produksi secara signifikan, memperburuk kekurangan pasokan dan mendorong harga lebih tinggi.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI), tolok ukur untuk harga minyak AS, melonjak 17% atau USD 15,32 menjadi USD 106,22 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent, patokan internasional, naik 15% atau USD 14,28 menjadi USD 106,92. Lonjakan ini merupakan salah satu kenaikan harga minyak terbesar dalam sejarah perdagangan berjangka, melampaui bahkan dampak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022.

Kenaikan harga minyak mentah AS mencatatkan rekor yang belum pernah terjadi sebelumnya, melonjak sekitar 35% hanya dalam satu minggu. Kenaikan eksponensial ini telah mengirimkan gelombang kejut ke seluruh pasar keuangan global, memicu kekhawatiran tentang dampak inflasi yang lebih luas dan potensi perlambatan ekonomi.

Respons dari Washington dan Produsen OPEC

Menanggapi lonjakan harga minyak, Presiden AS Donald Trump menyampaikan komentarnya melalui platform media sosial Truth Social. Trump menyatakan bahwa kenaikan "harga minyak jangka pendek" adalah "harga yang sangat kecil untuk dibayar" untuk menghilangkan ancaman nuklir yang ditimbulkan oleh Iran. Pernyataan ini mencerminkan pendekatan pemerintahan AS yang berfokus pada keamanan nasional, bahkan dengan mengorbankan stabilitas ekonomi jangka pendek.

"Hanya orang bodoh yang akan berpikir berbeda!," tambah Trump dalam postingannya, yang menunjukkan keyakinannya yang kuat pada strategi pemerintahannya.

Di sisi lain, negara-negara anggota OPEC (Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak) juga telah mengambil langkah-langkah untuk mengatasi krisis pasokan. Kuwait, produsen minyak terbesar kelima di OPEC, mengumumkan pengurangan produksi minyak dan output kilang sebagai respons terhadap "ancaman Iran terhadap jalur aman kapal melalui Selat Hormuz." Meskipun besarnya pengurangan tersebut tidak diungkapkan secara rinci, langkah ini menunjukkan keseriusan situasi dan keinginan Kuwait untuk melindungi infrastruktur energi vitalnya.

Situasi di Irak, produsen terbesar kedua di OPEC, bahkan lebih mengkhawatirkan. Produksi dari tiga ladang minyak utama di selatan negara itu telah turun 70% menjadi hanya 1,3 juta barel per hari. Penurunan drastis ini, dibandingkan dengan produksi sebelum perang sebesar 4,3 juta barel per hari, menggarisbawahi dampak destruktif konflik terhadap kemampuan Irak untuk memasok minyak ke pasar global.