Jakarta, Indonesia – Pasar minyak global mengalami turbulensi hebat pada hari Senin, diwarnai lonjakan harga yang dramatis dan penurunan tajam, dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dan intervensi mendadak dari mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Harga minyak sempat meroket mendekati USD 120 per barel sebelum akhirnya berbalik arah setelah Trump mengisyaratkan kemungkinan intervensi militer AS untuk mengamankan Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi dunia.
Selat Hormuz, sebuah jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia, merupakan arteri penting bagi pengiriman minyak global. Lebih dari 20% konsumsi minyak dunia melewati selat ini setiap harinya. Setiap gangguan atau ancaman terhadap keamanan pelayaran di Selat Hormuz dapat memicu guncangan besar pada pasar energi global.
Kepanikan pasar dipicu oleh laporan mengenai pemangkasan produksi minyak oleh sejumlah negara Arab di kawasan Teluk, sebagai respons terhadap meningkatnya risiko bagi kapal tanker yang melintas Selat Hormuz. Ancaman dari Iran, yang telah lama berselisih dengan negara-negara Barat dan sekutunya di Timur Tengah, menjadi katalis utama bagi kekhawatiran ini.
Reaksi Pasar dan Intervensi Trump
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), patokan harga minyak AS, sempat melonjak hingga USD 119,48 per barel dalam perdagangan semalam sebelum akhirnya ditutup pada USD 94,77 per barel, naik 4,26%. Sementara itu, harga minyak mentah Brent, patokan harga minyak global, mencapai puncak USD 119,50 per barel sebelum akhirnya menetap di USD 98,96 per barel.
Lonjakan harga ini menandai pertama kalinya harga minyak menembus angka USD 100 per barel sejak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022, sebuah peristiwa yang juga mengguncang pasar energi global.
Namun, reli harga minyak terhenti secara tiba-tiba setelah mantan Presiden AS Donald Trump membuat pernyataan mengejutkan dalam sebuah wawancara telepon dengan CBS News. Trump menyatakan bahwa ia sedang mempertimbangkan untuk "mengambil alih" Selat Hormuz untuk memastikan kelancaran lalu lintas pelayaran.
"Saya sedang memikirkan untuk mengambil alihnya," kata Trump, tanpa memberikan rincian lebih lanjut mengenai rencana atau justifikasi hukum untuk tindakan tersebut.
Pernyataan Trump memicu reaksi beragam. Beberapa analis melihatnya sebagai upaya untuk meredakan ketegangan dan menenangkan pasar, sementara yang lain mengkritiknya sebagai tindakan yang sembrono dan berpotensi memperburuk situasi di kawasan tersebut.