, Jawa Timur – Kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia. Pada Senin, 9 Maret , antrean panjang terlihat di berbagai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum () di Surabaya, Jawa Timur. Masyarakat khawatir akan dampak langsung kenaikan harga minyak dunia terhadap harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bergerak cepat untuk mengkaji dampak kenaikan tersebut dan mempersiapkan langkah-langkah antisipasi guna menjaga stabilitas pasokan BBM nasional.

Lonjakan harga minyak mentah dunia ini dipicu oleh berbagai faktor geopolitik, terutama konflik yang memanas di Timur Tengah. Pada Senin pagi, harga minyak mentah telah menembus angka US$ 113,68 per barel, sebuah level yang mengkhawatirkan. Konflik di Timur Tengah mengganggu jalur pasokan energi global, menciptakan ketidakpastian di pasar minyak dunia.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, dalam keterangan pers di Kantor Kementerian ESDM pada hari yang sama, menegaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah komprehensif untuk mengantisipasi dampak kenaikan harga minyak ini. Pemerintah menyadari betul bahwa kenaikan harga BBM dapat berdampak signifikan terhadap berbagai sektor ekonomi, termasuk transportasi, industri, dan daya beli masyarakat.

Salah satu fokus utama pemerintah adalah menjaga pasokan BBM nasional tetap aman dan stabil. Pemerintah terus berkoordinasi dengan PT Pertamina (Persero) untuk memastikan ketersediaan BBM di seluruh wilayah Indonesia. Pertamina sebagai perusahaan energi negara, memiliki peran vital dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga BBM. Pemerintah juga mempertimbangkan opsi-opsi lain, seperti diversifikasi sumber energi dan peningkatan efisiensi energi, untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak mentah.

Kenaikan harga minyak dunia ini berawal dari meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Serangan udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada tanggal 28 Februari 2026 menjadi pemicu utama lonjakan harga. Serangan tersebut ditanggapi dengan aksi balasan keras dari pemerintah Iran, semakin memperkeruh situasi di kawasan tersebut.

Konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah menciptakan ketidakpastian yang besar di pasar energi global. Iran sebagai salah satu produsen minyak utama dunia, memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas pasokan minyak. Aksi balasan Iran terhadap serangan AS dan Israel mengancam kelancaran pasokan minyak dari kawasan tersebut, sehingga memicu kekhawatiran di kalangan investor dan konsumen.

Akibat dari konflik ini, harga minyak dunia melonjak tajam ke level tertinggi sejak awal invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022. Kenaikan harga ini mencatatkan rekor mingguan terbesar sejak tahun 1985, menunjukkan betapa signifikannya dampak konflik Timur Tengah terhadap pasar energi global.

Pemerintah Indonesia menyadari bahwa situasi ini membutuhkan respons yang cepat dan terkoordinasi. Menteri Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa pemerintah sedang mengkaji berbagai opsi kebijakan untuk memitigasi dampak kenaikan harga minyak dunia. Opsi-opsi tersebut meliputi:

  1. Subsidi BBM yang Tepat Sasaran: Pemerintah mempertimbangkan untuk memberikan subsidi BBM yang lebih tepat sasaran kepada kelompok masyarakat yang paling rentan. Subsidi ini bertujuan untuk meringankan beban masyarakat berpenghasilan rendah yang paling terkena dampak kenaikan harga BBM.