Industri lending atau pinjaman daring (pindar) di Indonesia terus mengalami perkembangan pesat, menjadi salah satu pendorong utama inklusi keuangan di tanah air. Data terbaru menunjukkan bahwa sekitar 36 persen pinjaman tunai yang disalurkan melalui platform fintech dimanfaatkan untuk kegiatan produktif, khususnya dalam mendukung usaha kecil dan menengah (). Hal ini mengindikasikan peran signifikan fintech lending dalam memfasilitasi pertumbuhan ekonomi di sektor riil.

Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menekankan bahwa pembiayaan konsumtif dan produktif memiliki hubungan simbiosis mutualisme dalam menopang aktivitas ekonomi secara keseluruhan. Kusyeryansyah, perwakilan dari AFPI, menjelaskan bahwa konsumsi masyarakat merupakan faktor penting yang mendorong produksi. Dengan demikian, fintech lending memainkan peran krusial dalam rantai ekonomi, menghubungkan kebutuhan konsumsi dengan aktivitas produksi.

"Produktif dan konsumtif itu saling menopang. Orang membeli barang, itu mendukung produksi. Jadi peran pindar relevan dalam rantai ekonomi," ujar Kusyeryansyah, menyoroti pentingnya keseimbangan antara kedua jenis pembiayaan tersebut.

Peran Perbankan yang Semakin Meningkat

Selain pertumbuhan pemanfaatan pinjaman untuk kegiatan produktif, industri fintech lending juga mencatat peningkatan signifikan dalam keterlibatan perbankan sebagai lender atau pemberi pinjaman. Data dari Otoritas Jasa Keuangan () menunjukkan bahwa pada tahun 2020, kontribusi perbankan dalam industri fintech lending baru mencapai sekitar 28 persen. Namun, pada tahun , angka ini melonjak menjadi sekitar 70 persen.

Peningkatan ini mengindikasikan bahwa perbankan semakin menyadari potensi fintech lending sebagai saluran untuk memperluas jangkauan pembiayaan, terutama kepada segmen masyarakat yang sulit dijangkau oleh layanan perbankan konvensional. Kemitraan antara fintech lending dan perbankan juga dapat meningkatkan efisiensi dan inovasi dalam penyaluran kredit.

Tantangan dan Upaya Peningkatan Transparansi

Meskipun mengalami pertumbuhan yang pesat dan memberikan kontribusi positif terhadap inklusi keuangan, industri fintech lending masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu tantangan utama adalah terkait transparansi biaya dan literasi keuangan digital masyarakat.

Jika sebelumnya isu yang paling sering dikeluhkan oleh masyarakat adalah praktik penagihan yang tidak etis, kini pengaduan lebih banyak terkait kejelasan biaya dan skema pembayaran pinjaman. Banyak masyarakat yang merasa kaget atau tidak memahami sepenuhnya struktur biaya dan jadwal pembayaran pinjaman, meskipun informasi tersebut telah dijelaskan di awal.