Jakarta, [Tanggal Hari Ini] – Kondisi geopolitik global yang semakin memanas, terutama eskalasi konflik di Timur Tengah antara Israel dan Iran, telah memicu kekhawatiran di pasar keuangan global. Analis memperingatkan bahwa harga emas dunia berpotensi mengalami lonjakan signifikan dan bahkan dapat menembus level USD 6.000 per troy ounce pada bulan Maret 2026 jika ketegangan terus berlanjut.
Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih setelah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengumumkan bahwa negaranya telah melancarkan serangan pre-emptif terhadap Iran. Serangan ini, yang dikabarkan menargetkan berbagai lokasi strategis di Iran, termasuk fasilitas militer dan infrastruktur penting, telah memicu kecaman internasional dan meningkatkan risiko eskalasi konflik yang lebih luas.
Ibrahim Assuaibi, seorang analis komoditas terkemuka, menjelaskan bahwa kombinasi faktor geopolitik dan moneter menjadi pendorong utama lonjakan harga emas. Eskalasi perang di Timur Tengah menjadi katalis utama yang mendorong investor untuk mencari aset safe haven seperti emas.
"Ketika ketidakpastian global meningkat, investor cenderung beralih ke aset yang dianggap aman dan stabil, dan emas secara historis telah menjadi pilihan utama," kata Ibrahim. "Serangan antara Israel dan Iran, yang juga melibatkan kepentingan Amerika Serikat, meningkatkan ketidakpastian global dan mendorong permintaan terhadap emas."
Selain faktor geopolitik, ketegangan perang dagang juga menjadi sentimen penguat yang memengaruhi harga emas. Mantan Presiden AS, Donald Trump, dikabarkan masih berencana untuk menerapkan tarif impor sebesar 15% kepada negara-negara mitra dagang. Kebijakan ini dinilai berpotensi memicu ketidakpastian baru di pasar global dan mendorong investor untuk mencari perlindungan di aset safe haven.
Kebijakan Suku Bunga dan Dampaknya Terhadap Harga Emas
Arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), juga menjadi perhatian utama bagi para pelaku pasar. Ibrahim menilai bahwa peluang penurunan suku bunga pada tahun 2026 masih terbuka, terutama setelah masa jabatan Jerome Powell berakhir dan digantikan oleh figur baru.
Ia menyinggung nama Kevin Warsh sebagai kandidat yang berpotensi mendorong pelonggaran moneter yang lebih agresif. Warsh, yang dikenal sebagai seorang ekonom yang berorientasi pada pertumbuhan, diyakini akan lebih condong untuk menurunkan suku bunga guna mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Jika suku bunga diturunkan lebih banyak, emas akan kembali naik karena dolar melemah dan likuiditas bertambah," jelas Ibrahim. "Penurunan suku bunga akan membuat dolar AS menjadi kurang menarik bagi investor, sehingga mendorong mereka untuk mencari aset alternatif seperti emas."