Konflik yang memanas antara Iran dan Israel telah memicu kekhawatiran global, termasuk potensi dampaknya terhadap perekonomian Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai lembaga pemerintah yang berwenang dalam menyediakan data dan analisis statistik, telah memberikan pandangan awal mengenai potensi dampak tersebut. Namun, BPS menekankan bahwa kesimpulan pasti mengenai dampak eskalasi konflik ini terhadap perekonomian Indonesia belum dapat ditarik saat ini. Diperlukan kajian yang lebih mendalam dan komprehensif untuk mengukur secara akurat risiko ekonomi yang mungkin timbul, terutama melalui jalur perdagangan internasional dan rantai distribusi global.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers yang diadakan pada Senin, 2 Maret 2026, menjelaskan bahwa saat ini BPS baru dapat menyajikan gambaran perdagangan Indonesia dengan negara-negara yang terlibat dalam konflik tersebut, berdasarkan data terbaru yang tersedia untuk bulan Januari 2026. Data ini berfungsi sebagai indikasi awal untuk memahami potensi dampak jika eskalasi konflik terus meningkat dan meluas. Analisis ini penting untuk memberikan peringatan dini kepada pemerintah dan pelaku ekonomi agar dapat mengambil langkah-langkah mitigasi yang diperlukan.
Analisis Data Perdagangan Indonesia-Iran Januari 2026
Berdasarkan data yang dirilis oleh BPS, nilai ekspor Indonesia ke Iran pada Januari 2026 tercatat sebesar USD 18,5 juta. Komoditas utama yang diekspor Indonesia ke Iran didominasi oleh produk buah-buahan, dengan nilai mencapai USD 9,1 juta. Ini menunjukkan bahwa Iran merupakan pasar yang cukup signifikan bagi produk buah-buahan Indonesia. Selain buah-buahan, komoditas lain yang diekspor adalah lemak dan minyak hewan atau nabati sebesar USD 2,1 juta, serta kendaraan dan bagiannya senilai USD 2,0 juta. Diversifikasi komoditas ekspor ini menunjukkan bahwa hubungan perdagangan Indonesia-Iran tidak hanya terbatas pada satu jenis produk, meskipun buah-buahan memegang peranan penting.
Di sisi impor, Indonesia mendatangkan barang nonmigas dari Iran dengan nilai yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan ekspor. Total impor Indonesia dari Iran didominasi oleh buah-buahan senilai USD 2,0 juta, yang mencakup sekitar 94,07 persen dari total impor Indonesia dari negara tersebut. Ini menunjukkan bahwa Indonesia sangat bergantung pada Iran untuk pasokan buah-buahan tertentu. Selain buah-buahan, impor mesin dan perlengkapan mekanis beserta bagiannya hanya mencapai USD 113,4 ribu atau sekitar 5,30 persen dari total impor.
Implikasi Data Terhadap Potensi Dampak Konflik
Data perdagangan ini memberikan beberapa implikasi penting terkait potensi dampak konflik Iran-Israel terhadap perekonomian Indonesia. Pertama, ketergantungan perdagangan langsung Indonesia terhadap Iran relatif terbatas. Total nilai perdagangan (ekspor dan impor) dengan Iran relatif kecil dibandingkan dengan total perdagangan Indonesia dengan negara-negara lain. Hal ini mengindikasikan bahwa gangguan langsung terhadap perdagangan bilateral antara Indonesia dan Iran mungkin tidak akan memiliki dampak yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia secara keseluruhan.
Namun, perlu diingat bahwa dampak tidak langsung dari konflik ini bisa lebih besar. Eskalasi konflik dapat mengganggu rantai pasokan global, meningkatkan harga komoditas, dan menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan. Gangguan rantai pasokan dapat mempengaruhi ketersediaan bahan baku dan barang modal yang dibutuhkan oleh industri Indonesia. Peningkatan harga komoditas, terutama harga minyak, dapat meningkatkan biaya produksi dan inflasi. Ketidakpastian di pasar keuangan dapat menyebabkan penurunan investasi dan pertumbuhan ekonomi.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Dampak Konflik