Jakarta – Konflik yang semakin memanas antara Amerika Serikat dan Iran, yang dipicu oleh tindakan sepihak AS bersama Israel, telah memicu kekhawatiran mendalam di kalangan ekonom dan analis keuangan. Laporan terbaru dari DBS, salah satu lembaga keuangan terkemuka di Asia, menyoroti potensi dampak signifikan dari eskalasi konflik ini terhadap prospek ekonomi global. Laporan tersebut memperingatkan bahwa ketegangan geopolitik yang meningkat dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia, memicu inflasi, dan bahkan meningkatkan risiko resesi global.
Laporan DBS, yang berjudul "Market Pulse" dan dirilis pada Senin, 2 Maret 2026, menggarisbawahi bahwa konflik AS-Iran bukan hanya masalah regional, tetapi memiliki implikasi yang luas bagi stabilitas ekonomi global. Salah satu risiko utama yang diidentifikasi adalah potensi gangguan pasokan energi, yang dapat menyebabkan lonjakan harga minyak dan komoditas lainnya. Lonjakan harga energi ini, pada gilirannya, dapat memicu inflasi global, membatasi fleksibilitas kebijakan moneter, dan menekan aktivitas ekonomi.
Dampak Lonjakan Harga Energi terhadap Inflasi Global
Harga energi merupakan komponen penting dalam perekonomian global. Kenaikan harga energi dapat berdampak langsung pada biaya transportasi, produksi, dan konsumsi. Ketika harga energi naik, perusahaan harus mengeluarkan biaya yang lebih tinggi untuk menghasilkan barang dan jasa. Biaya tambahan ini sering kali diteruskan kepada konsumen dalam bentuk harga yang lebih tinggi. Akibatnya, inflasi meningkat, yang dapat mengurangi daya beli konsumen dan menekan pertumbuhan ekonomi.
Laporan DBS menyoroti bahwa lonjakan harga minyak akibat konflik AS-Iran dapat memperburuk ekspektasi inflasi global. Ekspektasi inflasi adalah keyakinan masyarakat tentang tingkat inflasi di masa depan. Jika masyarakat percaya bahwa inflasi akan meningkat, mereka akan cenderung meminta upah yang lebih tinggi dan perusahaan akan cenderung menaikkan harga. Hal ini dapat menciptakan lingkaran setan inflasi yang sulit dikendalikan.
Dilema Kebijakan Moneter: Stabilitas Harga vs. Pertumbuhan Ekonomi
Kenaikan ekspektasi inflasi dapat menempatkan bank sentral, khususnya Federal Reserve (The Fed) di Amerika Serikat, dalam posisi yang sulit. Bank sentral memiliki dua tujuan utama: menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Dalam situasi di mana inflasi meningkat, bank sentral mungkin perlu menaikkan suku bunga untuk mendinginkan ekonomi dan mengendalikan inflasi. Namun, kenaikan suku bunga juga dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi dan bahkan memicu resesi.
Laporan DBS berpendapat bahwa lonjakan harga energi akibat konflik AS-Iran dapat mempersempit ruang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga. Jika inflasi terus meningkat, The Fed mungkin terpaksa menaikkan suku bunga, meskipun hal itu dapat membahayakan pertumbuhan ekonomi. Dilema ini menyoroti tantangan yang dihadapi para pembuat kebijakan dalam menavigasi ketidakpastian geopolitik dan ekonomi.
Dampak terhadap Aktivitas Ekonomi dan Risiko Resesi Global