Jakarta – Harga emas dunia kembali menunjukkan taringnya pada perdagangan hari Rabu, mengakhiri tren penurunan tajam yang sempat membuat investor khawatir. Pemicunya tak lain adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang kembali memicu permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven. Sentimen positif ini diperkuat oleh melemahnya nilai tukar dolar AS, yang sebelumnya sempat mencatatkan reli signifikan.
Kombinasi kedua faktor ini menciptakan kondisi yang kondusif bagi kenaikan harga emas, mengembalikan kepercayaan investor di tengah ketidakpastian global. Emas, yang selama ini dikenal sebagai pelindung nilai di masa krisis, kembali membuktikan perannya sebagai aset yang dicari saat gejolak melanda pasar keuangan.
Pada perdagangan Rabu, harga emas spot mencatatkan kenaikan sekitar 0,7% menjadi USD 5.120,71 per ons. Kenaikan ini terjadi setelah sebelumnya harga emas sempat terperosok lebih dari 4% pada perdagangan Selasa, memicu kekhawatiran akan terjadinya koreksi yang lebih dalam. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April ditutup naik 0,2% ke level USD 5.134,70 per ons, memberikan sinyal positif bagi prospek harga emas dalam jangka pendek.
Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals, menyoroti peran penting pelemahan dolar AS dalam mendukung kenaikan harga emas. Menurutnya, koreksi yang terjadi pada nilai tukar dolar AS memberikan ruang bagi emas untuk kembali bersinar.
"Dolar mengalami koreksi sehingga memberikan dukungan bagi harga emas. Secara keseluruhan, faktor fundamental makro masih sangat mendukung emas. Selama perang dengan Iran masih berlangsung, kondisi tersebut juga akan tetap menopang harga emas," ujar Grant.
Pernyataan Grant menggarisbawahi bahwa ketegangan geopolitik, khususnya konflik yang melibatkan Iran, menjadi faktor kunci yang akan terus menopang harga emas. Perang dan ketidakstabilan politik cenderung meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti emas, karena investor mencari perlindungan dari risiko dan ketidakpastian.
Eskalasi Konflik AS-Iran: Pemicu Utama Permintaan Emas
Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi katalis utama yang mendorong investor untuk memburu emas. Laporan mengenai tenggelamnya kapal perang Iran oleh kapal selam militer AS di lepas pantai Sri Lanka, yang menewaskan puluhan orang, serta penghancuran rudal balistik Iran oleh sistem pertahanan udara NATO di Turki, semakin meningkatkan kekhawatiran pasar global.
Situasi yang memanas ini menciptakan sentimen risk-off di pasar keuangan, mendorong investor untuk mengurangi eksposur terhadap aset-aset berisiko dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman seperti emas. Emas, yang tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau saham, justru menjadi daya tarik karena kemampuannya untuk mempertahankan nilai di tengah ketidakpastian ekonomi dan inflasi.