MEDIAKOMPETEN.CO.ID - Momen perayaan Lebaran di Indonesia identik dengan penyajian aneka hidangan khas yang kaya akan santan dan lemak tinggi. Menu seperti opor ayam hingga rendang sering kali menjadi sajian utama yang disantap secara berlebihan oleh masyarakat sebagai bentuk perayaan.
Namun, di balik kenikmatan kuliner tersebut, terdapat sebuah kekeliruan pemahaman di tengah masyarakat mengenai penggunaan obat penurun kolesterol. Banyak yang menganggap bahwa mengonsumsi obat tertentu dapat menjadi solusi instan untuk menghilangkan lemak setelah makan besar.
Pakar farmasi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Zullies Ikawati, memberikan peringatan tegas mengenai fenomena ini. Beliau menekankan bahwa obat jenis simvastatin tidak bisa digunakan sembarangan sebagai alat penetral makanan berlemak.
"Simvastatin tidak diminum langsung setelah makan berlemak," ujar Prof Zullies Ikawati saat memberikan penjelasan yang dilansir dari detikcom pada Minggu (22/3/2026).
Penjelasan medis menunjukkan bahwa obat kolesterol memiliki cara kerja yang spesifik di dalam sistem metabolisme manusia. Obat ini tidak berinteraksi langsung dengan makanan yang baru saja masuk ke dalam saluran pencernaan.
"Obat ini bekerja menghambat pembentukan kolesterol di hati, bukan menetralisir lemak dari makanan yang baru dikonsumsi," kata Prof Zullies Ikawati dalam keterangannya.
Melalui penjelasan tersebut, masyarakat diharapkan memahami bahwa fungsi utama simvastatin adalah untuk mengontrol produksi kolesterol internal. Obat ini bukan merupakan "penawar" atas pola makan yang tidak terkontrol selama libur hari raya.
Edukasi ini menjadi penting agar masyarakat tidak terjebak dalam rasa aman yang semu setelah mengonsumsi obat tanpa anjuran medis yang tepat. Penggunaan obat-obatan harus tetap mengikuti prosedur kesehatan yang benar demi menjaga fungsi organ tubuh lainnya.
Dilansir dari detikcom, informasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran publik dalam menjaga pola makan yang sehat. Meski dalam suasana Lebaran, keseimbangan asupan nutrisi dan ketepatan penggunaan obat tetap harus menjadi prioritas utama.