Jakarta – Pertumbuhan ekonomi Tiongkok, yang selama ini menjadi mesin penggerak bagi kawasan Asia, kini menunjukkan tanda-tanda perlambatan yang mengkhawatirkan. Biro Statistik Nasional Tiongkok (NBS) melaporkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 5% secara tahunan (year-on-year), melampaui angka USD 25 triliun. Meski angka ini masih tergolong positif, berbagai tantangan internal yang dihadapi Tiongkok berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap negara-negara tetangganya, terutama di kawasan Asia Tenggara.
Sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia dan mitra dagang utama bagi negara-negara ASEAN sejak tahun 2009, kondisi ekonomi Tiongkok memiliki pengaruh langsung terhadap arah pertumbuhan regional, arus investasi, dan stabilitas mata uang. Negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, Filipina, Vietnam, dan Thailand (ASEAN-5) sangat bergantung pada Tiongkok, bukan hanya sebagai pasar eksternal, tetapi juga sebagai faktor penentu stabilitas ekonomi domestik.
Pada tahun 2025, nilai perdagangan bilateral antara Tiongkok dan ASEAN melampaui USD 1 triliun, mencerminkan betapa eratnya hubungan ekonomi di antara kedua belah pihak. Tiongkok tetap menjadi mitra dagang utama bagi masing-masing negara ASEAN-5, menyumbang sekitar 15-25% dari total ekspor dan 20-35% dari total impor.
Pola perdagangan antara Tiongkok dan Asia Tenggara umumnya berbentuk pertukaran bahan baku dan barang setengah jadi dari Asia Tenggara ke Tiongkok, dan sebaliknya, impor barang-barang manufaktur berteknologi tinggi, elektronik, baja, dan barang konsumsi dari Tiongkok ke Asia Tenggara. Indonesia mengekspor nikel dan minyak sawit, Malaysia mengirimkan komponen elektronik, Thailand menyediakan produk pertanian, Vietnam memasok pakaian, dan Filipina menawarkan sumber daya alam.
Namun, hubungan saling ketergantungan ini kini menghadapi ujian berat. Munculnya berbagai hambatan signifikan terhadap pertumbuhan Tiongkok pada tahun 2026 menimbulkan kekhawatiran serius bagi stabilitas ekonomi kawasan. Meskipun pertumbuhan PDB Asia sempat melampaui kinerja tahun 2025 berkat lonjakan investasi di sektor teknologi, momentum ini diperkirakan akan mereda seiring dengan penurunan permintaan eksternal. Pertumbuhan PDB Asia (tidak termasuk Tiongkok) diproyeksikan melambat menjadi 3,4% pada tahun 2026.
Menurut analis Elev8, Kar Yong Ang, terdapat dua risiko utama yang mendominasi prospek ekonomi Asia pada tahun 2026: krisis properti dan kelebihan kapasitas industri di Tiongkok, serta ketidakstabilan hubungan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok.
Krisis Properti dan Kelebihan Kapasitas Industri: Ancaman Nyata Bagi Asia Tenggara
Sektor properti Tiongkok, yang dulunya menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi, kini menjadi beban yang signifikan. Setelah sempat stabil, koreksi harga properti kembali menunjukkan tren penurunan yang lebih tajam pada pertengahan tahun 2025. Tingginya tingkat persediaan properti yang tidak terjual dan kekhawatiran akan gagal bayar yang kembali menghantui, terutama dengan pengembang besar seperti Vanke yang berjuang untuk memperpanjang jatuh tempo obligasi, telah menghancurkan kepercayaan konsumen. Akibatnya, permintaan agregat melemah, yang berpotensi mengurangi permintaan barang impor, termasuk dari negara-negara ASEAN.
Selain krisis properti, masalah kelebihan kapasitas industri di Tiongkok juga terus merugikan sektor manufaktur dan belanja modal di Asia Tenggara. Kelebihan kapasitas ini memicu persaingan harga yang ketat, menekan margin keuntungan perusahaan-perusahaan di kawasan tersebut. Sebagai contoh, di Indonesia, terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor industri dan ritel yang mencapai 42.000 orang pada akhir tahun 2025, meningkat 32% dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini diduga kuat terkait dengan tekanan kompetitif dari produk-produk Tiongkok yang lebih murah.