Konflik yang berkecamuk antara Iran dan Israel, dengan keterlibatan Amerika Serikat, telah memicu kekhawatiran global mengenai stabilitas ekonomi. Lebih dari sekadar eskalasi ketegangan geopolitik, perang ini berpotensi menciptakan gelombang disrupsi pada rantai pasokan global, inflasi, dan ketidakpastian ekonomi, yang dampaknya akan sangat dirasakan oleh negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Muhammad Sholahuddin, Guru Besar Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta (FEB UMS), menyoroti bahwa dampak perang ini akan meluas di berbagai sektor. Bukan hanya harga energi yang akan terpengaruh, tetapi juga berbagai kebutuhan pokok lainnya, seperti pupuk, produk elektronik, dan barang-barang impor yang sangat bergantung pada kelancaran rantai distribusi global.
Selat Hormuz: Titik Krusial Distribusi Energi Global
Salah satu implikasi strategis dari konflik ini adalah posisinya yang berada di kawasan Timur Tengah, yang merupakan jantung dari jalur distribusi energi dunia. Selat Hormuz, sebagai jalur pelayaran utama, menjadi sangat penting karena menjadi titik krusial dalam perdagangan minyak global.
"Perang di kawasan Timur Tengah, terutama yang mengancam di Selat Hormuz, berdampak besar karena hampir 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut," jelas Sholahuddin.
Sebagai wilayah yang berada di bawah pengaruh Iran, Selat Hormuz menjadi sangat rentan terhadap gangguan. Ketika ketegangan geopolitik meningkat, potensi pembatasan atau penutupan jalur pelayaran dapat mengganggu distribusi minyak dunia dan memicu lonjakan harga energi secara global. Skenario ini akan menciptakan efek domino yang meluas ke berbagai sektor ekonomi.
Kerentanan Indonesia Terhadap Gejolak Harga Energi
Indonesia, sebagai negara yang masih bergantung pada impor untuk memenuhi sekitar separuh kebutuhan minyak nasionalnya, sangat rentan terhadap gejolak harga energi di pasar internasional. Ketergantungan ini membuat Indonesia menjadi "price taker," yang berarti tidak memiliki kendali atas harga minyak yang harus dibayar.
"Ketika pasokan dari Timur Tengah terganggu, harga minyak akan naik. Kenaikan harga minyak ini tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga mempengaruhi distribusi barang, transportasi, hingga biaya logistik," ujar Sholahuddin.