Serangan gabungan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah mengguncang stabilitas kawasan Timur Tengah dan memicu kekhawatiran mendalam di pasar energi global. Potensi eskalasi konflik antara AS dan Iran bukan hanya ancaman bagi perdamaian regional, tetapi juga dapat memicu krisis pasokan energi yang berpotensi mendorong harga minyak dunia melonjak tajam dan menyeret ekonomi global ke jurang resesi.
Iran, sebagai produsen minyak terbesar keempat di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan pasokan minyak dunia. Dengan produksi harian mencapai lebih dari 3 juta barel, gangguan terhadap produksi atau ekspor minyak Iran akan memberikan dampak signifikan terhadap ketersediaan energi global.
Selain itu, posisi geografis Iran yang strategis, khususnya kepemilikan garis pantai di sepanjang Selat Hormuz, menjadikannya pemain kunci dalam lalu lintas perdagangan minyak dunia. Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran terpenting yang menghubungkan produsen minyak di Timur Tengah dengan konsumen di seluruh dunia. Melalui selat ini, jutaan barel minyak mentah dan gas alam cair (LNG) diangkut setiap hari untuk memenuhi kebutuhan energi global.
Ancaman Nyata yang Diremehkan Pasar
Selama ini, pasar energi cenderung mengabaikan atau meremehkan risiko gangguan pasokan yang berasal dari kawasan Timur Tengah. Stabilitas yang relatif terjaga dalam beberapa tahun terakhir mungkin telah menciptakan rasa aman yang semu di kalangan pelaku pasar. Namun, serangan terbaru terhadap Iran telah membuyarkan ilusi tersebut dan memaksa para analis untuk mengevaluasi kembali potensi risiko geopolitik yang selama ini terpendam.
Bob McNally, mantan penasihat energi Gedung Putih di era Presiden George W. Bush, dengan tegas menyatakan bahwa pasar telah meremehkan ancaman balasan dari Iran. Menurutnya, situasi saat ini sangat serius dan berpotensi memicu gejolak yang signifikan di pasar energi global.
McNally memperkirakan bahwa harga kontrak berjangka minyak mentah akan mengalami lonjakan drastis, diperkirakan antara USD 5 hingga USD 7 per barel, segera setelah perdagangan dibuka. Kenaikan ini mencerminkan upaya pasar untuk mulai memperhitungkan risiko geopolitik yang semakin meningkat akibat konflik AS-Iran.
Sebagai perbandingan, pada perdagangan terakhir, harga minyak Brent ditutup pada USD 72,48 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di level USD 67,02 per barel. Lonjakan yang diprediksi oleh McNally akan menjadi sinyal awal dari potensi krisis yang lebih besar.
Selat Hormuz: Titik Krusial yang Dapat Memicu Krisis Global