Menjelang perayaan Idul Fitri , Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB) telah mempersiapkan strategi matang untuk mengantisipasi lonjakan aktivitas mudik yang diperkirakan akan signifikan. Prediksi puncak arus mudik dan balik, serta potensi peningkatan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) menjadi fokus utama dalam perencanaan operasional.

Prediksi Puncak Arus Mudik dan Balik: Catatan Tanggal Penting

Berdasarkan analisis dan data historis, Pertamina JBB memprediksi puncak arus mudik Idul Fitri 2026 akan terjadi pada beberapa periode krusial. Gelombang pertama diperkirakan akan berlangsung pada tanggal 14 hingga 15 Maret 2026. Kemudian, gelombang kedua akan terjadi antara tanggal 18 hingga 20 Maret 2026. Sementara itu, puncak arus balik diprediksi akan terjadi pada tanggal 24 hingga 25 Maret 2026.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat, Susanto August Satria, menjelaskan bahwa prediksi ini menjadi dasar dalam penyusunan strategi distribusi BBM dan penempatan personel di titik-titik strategis. "Prediksi puncak arus mudik dan balik ini sangat penting bagi kami untuk memastikan ketersediaan BBM yang memadai di sepanjang jalur mudik dan balik," ujarnya.

Lonjakan : Antisipasi Kenaikan Permintaan

Selain memprediksi puncak arus mudik dan balik, Pertamina JBB juga mengantisipasi adanya peningkatan konsumsi BBM selama periode . Diperkirakan akan terjadi kenaikan konsumsi BBM sebesar 9,6 persen dibandingkan dengan hari-hari biasa atau bukan musim puncak. Kenaikan ini meliputi berbagai jenis BBM, termasuk Pertalite, Pertamax, dan Pertamax Turbo.

Peningkatan konsumsi ini dipicu oleh meningkatnya mobilitas masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi untuk melakukan perjalanan mudik. Pertamina JBB telah menyiapkan langkah-langkah antisipasi untuk memastikan ketersediaan BBM yang cukup di seluruh di wilayah Jawa Bagian Barat.

Penurunan Konsumsi Gasoil (Solar): Dampak Pembatasan Kendaraan Berat

Berbeda dengan konsumsi BBM jenis lainnya, Pertamina JBB memprediksi akan terjadi penurunan konsumsi gasoil atau solar sebesar 27,3 persen dibandingkan dengan hari biasa. Penurunan ini disebabkan oleh adanya pembatasan operasional kendaraan bertonase berat atau truk muatan oleh pemerintah selama periode arus mudik dan balik.