Jakarta – Di tengah eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, pemerintah Indonesia berupaya untuk meredam kekhawatiran publik terkait potensi dampaknya terhadap stabilitas ekonomi nasional. Menteri Perdagangan, Budi Santoso, dalam keterangan persnya di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (5/3/), menyatakan bahwa sejauh ini konflik tersebut belum memengaruhi secara signifikan harga pangan di dalam negeri.

"Ya kalau kita ngomongin dampak perang sebenarnya enggak mengganggu kita di dalam negeri," tegas Budi, berusaha meyakinkan masyarakat bahwa pasokan dan harga pangan lokal masih dalam kondisi terkendali.

Pernyataan ini didasarkan pada hasil pemantauan harga melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) yang menunjukkan stabilitas harga di berbagai wilayah Indonesia. Selain itu, kunjungan kerja ke berbagai daerah seperti Sulawesi, Aceh, dan Sumatera Barat juga mengonfirmasi kondisi serupa.

"Tetapi kami lihat kemarin harganya bagus, normal semua, pasokan juga enggak ada masalah. Kemarin yang di Makassar itu juga begitu, harga bagus-bagus semua ya," lanjut Budi, menekankan bahwa ketersediaan dan harga pangan di daerah-daerah tersebut masih dalam batas wajar.

Pemerintah berpendapat bahwa kontribusi terbesar Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia berasal dari konsumsi domestik. Oleh karena itu, menjaga momentum belanja dalam negeri menjadi prioritas utama untuk meminimalkan dampak negatif dari konflik global.

"Kalau kita kontribusi terhadap PDB itu kan sebenarnya belanja di dalam negeri yang paling besar. Nah itu terus harus kita jaga momentum itu. Sehingga tidak banyak terganggu nanti dari perang," jelas Budi.

Namun, di balik pernyataan optimis tersebut, Mendag Budi Santoso mengakui adanya potensi dampak dari konflik AS-Israel-Iran terhadap produk-produk yang menggunakan bahan baku impor. Eskalasi ketegangan, terutama jika sampai mengganggu jalur perdagangan internasional seperti penutupan Selat Hormuz, dapat memicu kenaikan harga bahan baku impor.

"Kita belum sampai ke situ (rincian komoditasnya), tapi yang jelas yang produk-produk menggunakan bahan baku impor bisa saja nanti akan terganggu," ungkap Budi, mengakui bahwa kenaikan harga bahan baku impor tidak dapat dihindari jika konflik terus berlanjut.

Untuk mengantisipasi dampak tersebut, Kementerian Perdagangan berencana untuk memanggil para pengusaha eksportir guna membahas secara rinci potensi masalah yang mungkin timbul. Pertemuan ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai komoditas atau produk apa saja yang paling rentan terhadap dampak konflik.