MEDIAKOMPETEN.CO.ID - Pariwisata Bali menghadapi tantangan serius terkait keberlanjutan citra alamnya yang ikonik. Salah satu aset visual utama Pulau Dewata, hamparan sawah hijau, dilaporkan mengalami penyusutan signifikan dalam kurun waktu delapan tahun terakhir.
Data menunjukkan bahwa sekitar 3.000 hektare lahan sawah telah hilang dari peta pertanian Bali. Fenomena ini timbul akibat masifnya konversi lahan pertanian menjadi fungsi lain yang didorong oleh perkembangan pembangunan.
Kehilangan area persawahan ini secara langsung mengancam daya tarik utama yang selama ini menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Sawah bukan hanya sektor produksi pangan, tetapi juga benteng estetika Bali.
Menanggapi situasi kritis ini, Gubernur Bali, Wayan Koster, menyatakan keprihatinannya atas laju alih fungsi lahan tersebut. Ia menekankan perlunya langkah strategis yang cepat untuk memitigasi dampak buruknya.
Pemerintah Provinsi Bali kini fokus pada upaya penyelamatan sisa lahan pertanian yang masih ada. Salah satu fokus utama adalah percepatan implementasi sistem pertanian yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Langkah konkret yang disiapkan adalah akselerasi transformasi menuju sistem pertanian organik di seluruh wilayah yang masih memiliki potensi sawah. Ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah sekaligus menjaga fungsi ekologis lahan.
Gubernur Koster secara eksplisit menyampaikan komitmen pemerintah dalam rapat paripurna mengenai hal ini. "Kita akan mempercepat pelaksanaan sistem pertanian organik," ujar Koster dalam pidatonya.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Gubernur Bali dalam Rapat Paripurna ke-28 yang diselenggarakan di Gedung Utama DPRD Provinsi Bali pada hari Rabu, 25 Maret 2026. Informasi ini kemudian dilansir dari detikBali.
Upaya transformasi pertanian organik ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang agar lahan sawah tidak hanya bertambah luas, tetapi juga menghasilkan produk berkualitas tinggi yang sesuai dengan citra Bali.