Jakarta, [Tanggal Hari Ini] – Pasar logam mulia kembali bergejolak di awal pekan ini, dengan perak menjadi salah satu komoditas yang mengalami tekanan signifikan. PT Aneka Tambang Tbk (Antam), sebagai salah satu pemain utama di pasar logam mulia Indonesia, mencatat penurunan harga perak yang cukup tajam pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026. Penurunan ini menjadi sorotan utama di tengah kekhawatiran global terkait inflasi, ketegangan geopolitik, dan ekspektasi perubahan kebijakan moneter oleh bank sentral dunia.
Koreksi Harga Perak Antam: Rincian dan Analisis
Harga perak Antam, yang menjadi acuan bagi pasar perak domestik, mengalami koreksi sebesar Rp 2.000 per gram. Dengan demikian, harga perak Antam kini berada di level Rp 51.100 per gram, turun dari posisi sebelumnya yang mencapai Rp 53.100 per gram. Penurunan ini mencerminkan sentimen pasar yang cenderung bearish terhadap perak, seiring dengan pelemahan harga emas yang juga terjadi pada hari yang sama.
Antam menawarkan berbagai ukuran perak batangan, mulai dari 250 gram hingga 500 gram, serta perak butiran murni dengan kadar 99,95%. Pada awal pekan ini, harga perak batangan 250 gram dipatok sebesar Rp 13.300.000, sementara harga perak batangan 500 gram ditetapkan sebesar Rp 25.675.000. Penurunan harga perak ini tentu menjadi perhatian bagi investor dan pelaku pasar yang memiliki eksposur terhadap komoditas ini.
Penurunan Harga Perak Dunia: Faktor Pemicu dan Dampaknya
Tidak hanya di pasar domestik, harga perak dunia juga mengalami penurunan yang signifikan. Mengutip data dari tradingeconomics.com, harga perak global anjlok lebih dari 4% ke posisi USD 80 per ounce pada awal pekan ini. Penurunan ini memperpanjang tren negatif yang terjadi pada pekan sebelumnya, yang dipicu oleh beberapa faktor utama:
- Penguatan Dolar AS: Dolar AS yang semakin kuat cenderung memberikan tekanan pada harga komoditas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar, termasuk perak. Penguatan dolar membuat perak menjadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain, sehingga mengurangi permintaan.
- Ekspektasi Kebijakan Moneter The Fed: Pasar semakin meragukan bahwa The Federal Reserve (The Fed) akan segera menurunkan suku bunga. Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi cenderung meningkatkan daya tarik dolar AS dan mengurangi daya tarik aset safe haven seperti perak.
- Kekhawatiran Inflasi dan Pertumbuhan Global: Lonjakan harga minyak, yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah, memicu kekhawatiran tentang inflasi global yang kembali meningkat. Kenaikan harga energi dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global dan mengurangi permintaan industri terhadap perak, yang merupakan pilar utama konsumsi logam tersebut.
Konflik di Timur Tengah: Dampak Terhadap Pasar Komoditas
Konflik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, telah menciptakan ketidakpastian yang signifikan di pasar komoditas global. Harga minyak melonjak di atas USD 100 per barel untuk pertama kalinya sejak 2022, karena kekhawatiran tentang gangguan pasokan minyak mentah dan gas alam.