MEDIAKOMPETEN.CO.ID - Perkembangan terbaru dalam dinamika hubungan internasional antara Amerika Serikat dan Iran menunjukkan adanya perubahan sikap dari pihak Washington. Setelah sebelumnya melontarkan ultimatum keras dalam kurun waktu 48 jam, Presiden AS Donald Trump tampak menunjukkan pelunakan dalam pendekatannya.

Sikap yang mendadak melunak ini segera menjadi perbincangan hangat di kalangan pengguna internet di seluruh dunia. Reaksi publik global kemudian terfokus pada sebuah akronim unik yang mulai viral, yaitu 'TACO Tuesday'.

Istilah 'Taco Tuesday' yang semula terdengar seperti promosi kuliner ternyata memiliki makna tersembunyi yang merujuk pada situasi politik tersebut. Dilansir dari USA Today, Selasa (24/3/2026), istilah ini merupakan singkatan dari Trump Always Chicken Out.

Secara harfiah, akronim tersebut diterjemahkan sebagai 'Trump selalu pengecut', sebuah label yang dilekatkan publik terhadap manuver politik sang presiden. Konteks penggunaan istilah ini mulai mengemuka sejak Mei 2025.

Istilah ini mendapatkan legitimasi lebih ketika dibakukan oleh seorang kolumnis ternama dari media internasional. "Istilah ini sudah ada sejak Mei 2025, dibakukan oleh kolumnis Financial Times, Robert Amstrong untuk menggambarkan tingkah polah Trump yang suka melempar ancaman," demikian narasi yang berkembang di ruang digital.

Robert Amstrong disebut sebagai pihak yang mempopulerkan akronim tersebut sebagai cara untuk mendeskripsikan pola perilaku Presiden Trump dalam melontarkan ancaman-ancaman keras. Pola ini seringkali diikuti dengan penarikan diri atau pengurangan intensitas ancaman tersebut.

Menariknya, fenomena ini tidak hanya sebatas ejekan politik semata, namun juga memiliki dampak signifikan pada sektor ekonomi. Beberapa hari setelah ancaman dilontarkan, Trump dikabarkan menciut setelah mengamati respons negatif dari pasar keuangan.

Kekhawatiran pasar ini menciptakan peluang bagi para pelaku pasar saham untuk melakukan manuver cepat. "TACO Tuesday menjadi momen pemain saham untuk cari untung dalam waktu singkat, karena omongan Trump membuat pasar saham jadi limbung," adalah kesimpulan yang muncul dari analisis situasi tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa pernyataan politik tingkat tinggi, terutama yang disampaikan dengan nada konfrontatif, dapat langsung memicu volatilitas yang dapat dieksploitasi oleh para spekulan pasar modal.