Jakarta – Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) telah menyelesaikan proses seleksi ketat dan menetapkan lima nama yang akan mengisi kursi Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk periode krusial 2026-2031. Salah satu nama yang mencuri perhatian adalah Adi Budiarso, seorang pejabat senior yang kaya pengalaman dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Penunjukan Adi Budiarso ini menandai babak baru dalam pengawasan dan pengembangan sektor keuangan digital yang dinamis di Indonesia.
Adi Budiarso terpilih untuk mengemban amanah sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto di OJK. Peran ini sangat strategis mengingat pesatnya perkembangan teknologi finansial (fintech), aset digital, dan mata uang kripto yang semakin mewarnai lanskap keuangan global dan nasional. Penunjukan ini juga mengindikasikan keseriusan OJK dalam merespons dan mengantisipasi tantangan serta peluang yang ditawarkan oleh inovasi keuangan digital. Adi akan menggantikan Hasan Fawzi yang akan mengemban tugas baru sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon. Rotasi ini menunjukkan komitmen OJK untuk terus memperkuat dan menyegarkan jajaran pimpinan agar mampu menghadapi dinamika pasar keuangan yang terus berubah.
Profil Adi Budiarso: Rekam Jejak Panjang di Kementerian Keuangan
Sebelum dipercaya untuk memimpin pengawasan inovasi keuangan digital di OJK, Adi Budiarso telah menorehkan rekam jejak yang panjang dan gemilang di Kementerian Keuangan. Berdasarkan informasi dari laman resmi Kemenkeu, jabatan terakhir yang diemban Adi adalah Direktur Pengembangan Perbankan, Pasar Keuangan, dan Pembiayaan Lainnya di Direktorat Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan. Posisi ini memberinya pengalaman mendalam dalam memahami seluk-beluk industri perbankan, pasar keuangan, serta berbagai instrumen pembiayaan lainnya.
Karier Adi di Kemenkeu dimulai sejak tahun 1990, sebagai pelaksana di Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan. Pengalaman ini menjadi fondasi yang kokoh bagi pemahaman Adi tentang sistem keuangan negara dan pentingnya pengembangan sumber daya manusia di sektor keuangan. Sejak saat itu, Adi terus mengembangkan diri dan menapaki berbagai posisi strategis di Kemenkeu.
Adi juga pernah bertugas di Badan Kebijakan Fiskal (BKF), sebuah unit yang memiliki peran penting dalam merumuskan kebijakan fiskal yang mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Pengalaman di BKF membekali Adi dengan kemampuan analisis ekonomi yang tajam dan pemahaman yang mendalam tentang bagaimana kebijakan fiskal dapat memengaruhi sektor keuangan.
Pada periode 2014-2018, Adi dipercaya untuk menjabat sebagai Kepala Central Transformation Office (CTO) di Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan. Jabatan ini menuntut kemampuan untuk memimpin dan mengelola perubahan organisasi secara efektif. Di bawah kepemimpinan Adi, CTO berhasil menginisiasi berbagai program transformasi yang meningkatkan efisiensi dan efektivitas kinerja Kemenkeu.
Pengalaman lain yang tak kalah penting adalah ketika Adi dipercaya sebagai Sekretaris Kerja Panitia Nasional Annual Meetings IMF-World Bank Group 2018 yang diselenggarakan di Bali. Penyelenggaraan acara internasional sebesar ini membutuhkan koordinasi yang kuat antar berbagai pihak, kemampuan manajemen proyek yang handal, serta pemahaman tentang isu-isu ekonomi global. Keberhasilan Indonesia dalam menyelenggarakan Annual Meetings IMF-World Bank Group 2018 tidak lepas dari peran Adi sebagai Sekretaris Kerja Panitia Nasional.
Selain itu, Adi juga pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Pembiayaan Perubahan Iklim dan Multilateral serta Kepala Pusat Kebijakan Sektor Keuangan di Badan Kebijakan Fiskal. Jabatan-jabatan ini menunjukkan komitmen Adi terhadap isu-isu keberlanjutan dan perannya dalam merumuskan kebijakan yang mendukung pembangunan berkelanjutan.