PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, raksasa telekomunikasi nasional, tengah memacu transformasi besar-besaran untuk bertransformasi menjadi perusahaan AI Native. Langkah strategis ini ditandai dengan integrasi masif kecerdasan buatan (AI) ke dalam seluruh aspek operasional perusahaan, dengan fokus utama pada penguatan infrastruktur jaringan inti (core network). Inisiatif ini bukan sekadar adopsi teknologi, melainkan sebuah pergeseran paradigma yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi investasi secara signifikan dan menghadirkan pengalaman pelanggan yang optimal secara real-time.
Dalam lanskap bisnis yang semakin kompetitif dan dinamis, Telkom menyadari bahwa adaptasi terhadap teknologi AI bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan. Perusahaan bertekad untuk memanfaatkan potensi AI untuk mengoptimalkan kinerja jaringan, meningkatkan kualitas layanan, dan menciptakan nilai tambah bagi para pemangku kepentingan.
Executive General Manager Digital Product Telkom Indonesia, Komang Budi Aryasa, menegaskan komitmen perusahaan dalam mewujudkan visi AI Native. Meskipun Telkom tidak dilahirkan sebagai perusahaan yang berakar pada AI, semangat untuk melengkapi setiap proses bisnis dengan teknologi canggih ini menjadi prioritas utama. Salah satu target ambisius yang ingin dicapai adalah mewujudkan Autonomous Network atau jaringan otonom.
"Ke depan, kami membayangkan jaringan yang semakin mandiri dan adaptif. Kami sedang menjalin kerjasama strategis dengan mitra global terkemuka seperti Google untuk membangun jaringan yang memiliki kemampuan self-healing. Artinya, jika terjadi gangguan atau anomali, sistem AI akan secara otomatis melakukan perbaikan melalui auto-routing tanpa memerlukan intervensi manual yang memakan waktu," jelas Komang.
Konsep Autonomous Network ini merupakan terobosan revolusioner dalam pengelolaan jaringan telekomunikasi. Dengan kemampuan mendeteksi, menganalisis, dan mengatasi masalah secara otomatis, jaringan otonom akan mengurangi downtime secara signifikan, meningkatkan keandalan, dan memastikan kelancaran layanan bagi pelanggan. Lebih jauh lagi, jaringan otonom akan membebaskan sumber daya manusia dari tugas-tugas rutin dan memungkinkan mereka untuk fokus pada inisiatif strategis yang lebih bernilai tambah.
Penerapan AI di Telkom telah dimulai sejak tahap perencanaan. Komang mencontohkan penggunaan AI dalam penggelaran kabel serat optik (fiber optic). "Kami memanfaatkan AI untuk memprediksi tingkat permintaan (demand) di suatu wilayah. Dengan demikian, pembangunan infrastruktur dapat dilakukan secara tepat sasaran dan meminimalisir risiko investasi yang tidak efisien," ujarnya.
Pendekatan berbasis data ini memungkinkan Telkom untuk mengalokasikan sumber daya secara optimal dan menghindari pemborosan. Dengan menganalisis data historis, tren pasar, dan faktor-faktor demografis, AI membantu perusahaan untuk membuat keputusan investasi yang lebih cerdas dan akurat.
Tidak hanya pada jaringan kabel, implementasi AI juga telah merambah ke sisi seluler yang dioperasikan oleh Telkomsel. Ribuan Base Transceiver Station (BTS) telah dilengkapi dengan teknologi AI untuk meningkatkan kinerja jaringan dan mengoptimalkan pengalaman pengguna. AI digunakan untuk memantau kualitas sinyal, mengelola kapasitas jaringan, dan mengidentifikasi potensi masalah sebelum berdampak pada pelanggan.
Selain itu, Telkom juga memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mengurangi biaya. Misalnya, AI digunakan untuk memprediksi kebutuhan energi BTS dan mengoptimalkan penggunaan daya. Hal ini tidak hanya mengurangi biaya operasional, tetapi juga berkontribusi pada upaya pelestarian lingkungan.