PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, raksasa telekomunikasi Indonesia, tengah menggenjot transformasi fundamental menjadi perusahaan yang berorientasi pada kecerdasan buatan (AI Native). Langkah strategis ini bukan sekadar adopsi teknologi, melainkan perubahan paradigma yang meresap ke seluruh lini bisnis, terutama pada jantung infrastruktur mereka: jaringan inti (core network). Tujuannya jelas: efisiensi yang berlipat ganda dan pengalaman pelanggan yang dipersonalisasi secara real-time, memuaskan, dan tanpa hambatan.

Transformasi menjadi AI Native ini menandai era baru bagi Telkom. Perusahaan menyadari bahwa di era digital yang dinamis dan kompetitif ini, adopsi dan integrasi AI bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk tetap relevan dan unggul. Investasi besar-besaran dan komitmen yang kuat terhadap pengembangan AI menunjukkan keseriusan Telkom dalam mewujudkan visi ini.

Executive General Manager Digital Product Telkom Indonesia, Komang Budi Aryasa, dengan tegas menyatakan bahwa meskipun Telkom tidak dilahirkan sebagai perusahaan yang berakar pada AI, semangat untuk mengintegrasikan teknologi cerdas ini ke dalam setiap aspek operasional menjadi prioritas utama. Ambisi terbesar perusahaan adalah mewujudkan Autonomous Network, sebuah jaringan yang mampu beroperasi secara mandiri, cerdas, dan adaptif.

"Ke depan, kami membayangkan jaringan yang semakin mandiri. Kami sedang bekerja sama dengan mitra global terkemuka seperti Google untuk mewujudkan jaringan yang memiliki kemampuan self-healing. Artinya, jika terjadi gangguan, sistem AI akan secara otomatis melakukan perbaikan melalui auto-routing, tanpa memerlukan intervensi manual yang seringkali memakan waktu," jelas Komang, Senin (2/3/) di Jakarta.

Konsep Autonomous Network ini adalah terobosan revolusioner dalam pengelolaan infrastruktur telekomunikasi. Bayangkan sebuah jaringan yang mampu mendeteksi, menganalisis, dan mengatasi masalah secara otomatis, meminimalkan downtime, dan memastikan kelancaran layanan bagi jutaan pelanggan. Jaringan seperti ini tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga meningkatkan keandalan dan kualitas layanan secara signifikan.

Penerapan AI di Telkom tidak hanya terbatas pada visi jangka panjang seperti Autonomous Network. Implementasi AI telah dimulai secara bertahap, dimulai dari tahap perencanaan strategis. Komang memberikan contoh konkret, dalam penggelaran kabel serat optik (fiber optic), Telkom memanfaatkan AI untuk memprediksi tingkat permintaan (demand) di suatu wilayah.

"Dengan menggunakan AI untuk memprediksi permintaan, kami dapat memastikan bahwa pembangunan infrastruktur dilakukan secara tepat sasaran, sesuai dengan kebutuhan riil pasar. Hal ini meminimalisir risiko investasi yang sia-sia dan memastikan alokasi sumber daya yang optimal," kata Komang.

Pendekatan berbasis data dan prediktif ini memungkinkan Telkom untuk membuat keputusan investasi yang lebih cerdas dan strategis. Dengan memahami pola permintaan dan tren pasar, Telkom dapat membangun infrastruktur yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan, menghindari over-investment di area yang kurang potensial, dan memaksimalkan return on investment (ROI).

Penggunaan AI tidak hanya terbatas pada infrastruktur jaringan kabel. Di sisi seluler, yang dioperasikan oleh anak perusahaan Telkomsel, pemanfaatan AI telah diterapkan pada ribuan Base Transceiver Station (BTS). AI digunakan untuk mengoptimalkan kinerja BTS, meningkatkan kualitas sinyal, dan mengelola kapasitas jaringan secara dinamis.