MEDIAKOMPETEN.CO.ID - Perayaan Idul Fitri di Indonesia identik dengan tradisi silaturahmi yang dilakukan secara maraton. Momen tahunan ini menjadi kesempatan berharga bagi masyarakat untuk mempererat tali persaudaraan dengan keluarga besar maupun kerabat jauh.
Tidak sedikit keluarga yang menggelar acara gelar griya atau open house secara berturut-turut selama tiga hari. Aktivitas yang sangat padat ini seringkali membuat agenda harian menjadi sangat menyita energi dan waktu istirahat.
Namun, di balik kegembiraan tersebut, terdapat risiko kesehatan yang mengintai setelah masa libur Lebaran berakhir. Fenomena ini kerap ditandai dengan munculnya berbagai keluhan fisik akibat kondisi tubuh yang menurun drastis.
Munculnya masalah kesehatan pasca-Lebaran ini dipicu oleh beberapa faktor utama yang sering kali diabaikan oleh masyarakat. Salah satu pemicu utamanya adalah perubahan pola makan yang tidak lagi terkontrol dibandingkan saat bulan Ramadan.
Selain faktor nutrisi, interaksi sosial yang sangat intens juga memberikan beban tersendiri bagi ketahanan fisik seseorang. Frekuensi pertemuan yang tinggi tanpa jeda istirahat yang cukup dapat menurunkan imunitas secara signifikan.
"Daya tahan tubuh memegang peranan vital karena banyak individu mengalami kelelahan akibat perjalanan jauh atau jadwal aktivitas yang sangat padat selama Lebaran, sehingga mereka lebih mudah terserang penyakit," ujar dokter spesialis penyakit dalam, Andi Khomeini Takdi Haruni.
Penjelasan tersebut disampaikan oleh beliau saat memberikan keterangan kepada awak media pada hari Minggu (23/3/2026). Beliau menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap kondisi fisik agar tidak jatuh sakit setelah merayakan hari kemenangan.
Perjalanan jauh saat mudik atau berkeliling mengunjungi sanak saudara memerlukan manajemen energi yang baik. Tanpa adanya waktu pemulihan yang memadai, tubuh akan mencapai titik jenuh dan menjadi sangat rentan terhadap berbagai infeksi.
Masyarakat diimbau untuk tetap bijak dalam mengatur waktu antara berkunjung dan memberikan kesempatan bagi tubuh untuk beristirahat. Keseimbangan antara aktivitas sosial dan pemulihan fisik menjadi kunci utama agar stamina tetap terjaga dengan optimal.