Jakarta, Indonesia – Perusahaan teknologi medis raksasa asal Amerika Serikat, Stryker, baru-baru ini menjadi target serangan siber dahsyat yang diduga dilakukan oleh kelompok peretas bernama Handala. Kelompok yang disebut-sebut memiliki afiliasi dengan Iran ini mengklaim bertanggung jawab atas lumpuhnya operasional Stryker di berbagai belahan dunia. Insiden ini bukan hanya mengganggu sistem internal perusahaan, tetapi juga memicu kekhawatiran mendalam di kalangan ahli keamanan siber mengenai masa depan perang siber dan implikasi geopolitiknya.

Serangan ini, yang terjadi pada tanggal 13 Maret , menunjukkan betapa rentannya perusahaan multinasional terhadap serangan siber yang terkoordinasi. Hanya dengan satu celah keamanan yang berhasil ditembus, sebuah organisasi global dapat dilumpuhkan dalam hitungan jam. Dampaknya pun sangat luas, tidak hanya dari segi finansial, tetapi juga terhadap reputasi dan kepercayaan pelanggan.

Menurut laporan dari The Verge, serangan ini menyebabkan gangguan signifikan di seluruh jaringan global Stryker. Handala mengklaim telah menghapus data dari lebih dari 200.000 perangkat, server, dan sistem perusahaan di seluruh dunia. Selain itu, mereka juga mengklaim berhasil mencuri sekitar 50 terabyte (TB) data internal yang sensitif.

Detail Serangan yang Mengejutkan

Efek dari serangan ini sangat terasa. Ribuan karyawan Stryker di berbagai negara mendapati diri mereka tidak dapat mengakses laptop dan ponsel kerja. Banyak perangkat bahkan dilaporkan mati total setelah data dihapus secara massal dari sistem perusahaan. Beberapa halaman login internal perusahaan sempat diubah, menampilkan logo kelompok Handala sebagai bentuk klaim tanggung jawab.

Pihak Stryker sendiri telah mengonfirmasi bahwa mereka mengalami gangguan jaringan global yang memengaruhi lingkungan sistem Microsoft mereka. Dalam pernyataan resminya, perusahaan menyatakan bahwa gangguan tersebut disebabkan oleh serangan siber dan saat ini sedang dalam proses investigasi mendalam.

Namun, yang lebih mengejutkan adalah pernyataan perusahaan yang menyebutkan bahwa mereka tidak menemukan indikasi adanya ransomware atau malware yang menyandera data perusahaan. Hal ini mengindikasikan bahwa serangan ini bukanlah bertujuan untuk mendapatkan tebusan, melainkan untuk menghancurkan data dan melumpuhkan operasional perusahaan.

Modus Operandi yang Merusak

Teknik serangan yang digunakan oleh kelompok Handala terbilang unik dan sangat berbahaya. Mereka diduga berhasil mengakses sistem manajemen perangkat perusahaan yang berbasis cloud, seperti Microsoft Intune. Melalui akses ini, mereka dapat mengirim perintah remote wipe atau penghapusan jarak jauh ke ribuan perangkat sekaligus.