MEDIAKOMPETEN.CO.ID - Para penjaga gerbang pengetahuan dunia kini mulai mengambil langkah hukum yang tegas terhadap perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang kian masif. Dua raksasa penerbitan ternama, Encyclopaedia Britannica dan Merriam-Webster, secara resmi melayangkan gugatan hukum terhadap OpenAI.

Langkah hukum ini diambil setelah adanya dugaan pelanggaran hak cipta yang dilakukan dalam proses pelatihan model kecerdasan buatan milik perusahaan asal Amerika Serikat tersebut. Gugatan tersebut telah resmi didaftarkan pada hari Jumat lalu sebagai bentuk perlindungan terhadap kekayaan intelektual mereka.

Pihak penggugat menuding bahwa OpenAI telah memanfaatkan basis data mereka yang sangat luas tanpa melalui prosedur perizinan yang sah. Penggunaan konten berhak cipta ini diduga kuat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan pemahaman bahasa pada model AI populer seperti GPT-4.

"OpenAI menggunakan konten berhak cipta tanpa izin untuk melatih model seperti GPT-4," dilansir dari dokumen gugatan yang diajukan oleh Encyclopaedia Britannica dan Merriam-Webster. Hal ini dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap hak eksklusif yang dimiliki oleh para penerbit.

Selain masalah penggunaan data untuk pelatihan, kedua penerbit tersebut juga menyoroti output atau hasil jawaban yang diberikan oleh sistem kecerdasan buatan tersebut. Mereka menemukan bahwa sistem tersebut memiliki kemampuan untuk memproduksi teks yang sangat menyerupai sumber aslinya.

"Model tersebut mampu menghasilkan jawaban yang sangat mirip hingga mendekati salinan langsung dari materi asli," kata pihak penggugat dalam berkas laporannya. Fenomena ini dikhawatirkan dapat menggantikan peran literatur asli yang disusun oleh para ahli.

Britannica secara spesifik mengungkapkan kekhawatirannya mengenai kemampuan daya ingat yang dimiliki oleh GPT-4 dalam memproses informasi. Mereka mengklaim bahwa kecerdasan buatan tersebut seolah-olah telah menyerap seluruh isi ensiklopedia mereka ke dalam memorinya secara mendalam.

"GPT-4 telah menghafalkan sebagian besar kontennya dan dapat mengeluarkan kembali teks hampir identik atas permintaan," ujar pihak Britannica menjelaskan temuannya. Hal ini dibuktikan melalui serangkaian pengujian yang dilakukan terhadap respons AI tersebut.

Sebagai bukti pendukung di persidangan, dokumen gugatan tersebut juga menyertakan sejumlah contoh perbandingan langsung antara respons AI dan artikel asli. Terdapat bukti kuat yang menunjukkan kemiripan kata demi kata yang dihasilkan oleh GPT-4 saat diminta menjelaskan topik tertentu.