Mark Zuckerberg, pendiri dan CEO Meta, kembali berada di bawah tekanan berat saat menghadiri persidangan penting di Los Angeles Superior Court pada Rabu, 18 Februari 2026. Kali ini, ia harus menjawab tuduhan serius bahwa Instagram, platform media sosial raksasa milik Meta, sengaja dirancang untuk menciptakan kecanduan di kalangan pengguna remaja, bahkan anak-anak. Persidangan ini menjadi sorotan karena dianggap sebagai salah satu tantangan hukum paling signifikan yang pernah dihadapi oleh perusahaan teknologi tersebut.
Gugatan ini hanyalah puncak gunung es. Ribuan gugatan serupa sedang bergulir di berbagai pengadilan di seluruh Amerika Serikat. Keluarga korban, jaksa negara bagian, dan bahkan distrik sekolah mengajukan tuntutan hukum, menuduh platform media sosial seperti Instagram, YouTube, TikTok, dan Snapchat berkontribusi pada kecanduan media sosial di kalangan anak-anak dan remaja. Mereka berpendapat bahwa platform-platform ini menggunakan algoritma dan fitur desain yang adiktif, yang secara sengaja mengeksploitasi kerentanan psikologis anak-anak untuk memaksimalkan keterlibatan dan keuntungan.
Persidangan yang melibatkan Zuckerberg ini menyoroti tuduhan spesifik terkait Instagram. Penggugat berpendapat bahwa Meta mengetahui dampak negatif platform tersebut terhadap kesehatan mental remaja, tetapi tetap memprioritaskan pertumbuhan pengguna dan pendapatan iklan di atas kesejahteraan anak-anak. Mereka mengklaim bahwa Meta sengaja menciptakan lingkungan online yang mendorong penggunaan berlebihan, memicu kecemasan, depresi, dan masalah kesehatan mental lainnya.
Pengacara penggugat, Mark Lanier, menggunakan strategi yang kuat dengan membeberkan berbagai dokumen internal Meta di hadapan juri. Dokumen-dokumen ini, yang meliputi email, hasil riset, dan presentasi lama perusahaan, memberikan gambaran yang mendalam tentang pemikiran dan strategi internal Meta terkait dengan pertumbuhan pengguna dan keterlibatan. Lanier berargumen bahwa dokumen-dokumen ini membuktikan bahwa Meta sadar akan potensi adiktif Instagram dan dampaknya terhadap remaja, tetapi memilih untuk mengabaikan risiko demi keuntungan finansial.
Salah satu bukti kunci yang diajukan oleh Lanier adalah email dari tahun 2015 yang diduga ditulis oleh Mark Zuckerberg sendiri. Dalam email tersebut, Zuckerberg dilaporkan menyebutkan target peningkatan waktu penggunaan sebesar 12 persen dan berusaha untuk membalikkan tren penurunan pengguna remaja. Email ini digunakan sebagai bukti bahwa Zuckerberg secara pribadi terlibat dalam upaya untuk meningkatkan keterlibatan remaja di platform tersebut, bahkan jika itu berarti berpotensi menciptakan kecanduan.
Selain itu, Lanier juga menyoroti dokumen internal lain dari tahun 2017 yang menunjukkan bahwa Zuckerberg telah memutuskan untuk menjadikan remaja sebagai prioritas utama perusahaan. Dokumen ini, bersama dengan bukti lainnya, digunakan untuk membangun narasi bahwa Meta secara sengaja menargetkan remaja dengan strategi pemasaran dan desain produk yang dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan dan adiksi.
Lanier juga menyoroti laporan riset eksternal tahun 2019 yang dilakukan untuk Instagram. Laporan tersebut mengungkapkan temuan yang mengganggu tentang bagaimana remaja merasa "terikat" pada platform tersebut meskipun mereka menyadari dampaknya yang negatif terhadap diri mereka sendiri. Laporan itu juga menggambarkan bagaimana remaja memiliki "narasi layaknya pecandu tentang penggunaan Instagram mereka," yang semakin memperkuat argumen bahwa platform tersebut bersifat adiktif.
Persidangan ini bukan hanya tentang Instagram; ini juga tentang tanggung jawab perusahaan media sosial secara keseluruhan terhadap dampak platform mereka terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan anak-anak. Jika Meta terbukti bersalah, hal itu dapat membuka pintu bagi lebih banyak gugatan hukum terhadap perusahaan media sosial lainnya dan mendorong perubahan signifikan dalam cara platform-platform ini dirancang dan dioperasikan.
Implikasi dari persidangan ini sangat luas. Jika Meta dinyatakan bertanggung jawab atas kecanduan Instagram di kalangan remaja, perusahaan tersebut dapat menghadapi denda yang besar, perintah untuk mengubah desain platformnya, dan bahkan kewajiban untuk memberikan kompensasi kepada korban dan keluarga mereka. Lebih penting lagi, putusan yang merugikan Meta dapat mengirimkan pesan yang kuat kepada industri media sosial secara keseluruhan bahwa mereka harus bertanggung jawab atas dampak negatif platform mereka terhadap anak-anak.