MEDIAKOMPETEN.CO.ID - Momen Hari Raya Idul Fitri selalu identik dengan hidangan khas Nusantara, salah satunya adalah ketupat yang menjadi primadona di meja makan. Namun, seiring dengan perayaan tersebut, muncul pula perbincangan mengenai dampaknya terhadap berat badan.

Banyak masyarakat yang cenderung khawatir bahwa mengonsumsi ketupat secara berlebihan saat Lebaran dapat memicu kenaikan berat badan signifikan. Kekhawatiran ini sering muncul karena ketupat menjadi alternatif utama pengganti nasi putih biasa.

Secara mendasar, baik nasi maupun ketupat memang sama-sama diolah dari bahan baku utama yang sama, yaitu beras. Perbedaan utama terletak pada proses pengolahan dan tekstur akhir yang dihasilkan oleh kedua makanan tersebut.

Proses pembuatan ketupat melibatkan pembungkusan beras dalam anyaman daun kelapa muda, kemudian direbus dalam waktu yang cukup lama hingga padat. Proses pemadatan inilah yang seringkali memicu spekulasi mengenai kandungan kalorinya.

Pertanyaan besar yang sering muncul di benak masyarakat adalah apakah komposisi nutrisi ketupat benar-benar lebih tinggi atau lebih menyebabkan kegemukan dibanding porsi nasi dalam jumlah setara. Untuk menjawab hal ini, pandangan dari pakar gizi menjadi sangat krusial.

Mengenai perbandingan kalori antara ketupat dan nasi, seorang dokter gizi telah memberikan pandangannya terkait isu yang sering beredar luas selama periode perayaan hari besar keagamaan tersebut.

"Nasi dan ketupat memang berasal dari beras. Tetapi, keduanya diolah dengan cara berbeda," demikian penjelasan yang disampaikan mengenai perbedaan mendasar antara kedua sumber karbohidrat tersebut.

Lebih lanjut, mengenai persepsi umum yang beredar di masyarakat mengenai dampak ketupat terhadap berat badan, sang ahli memberikan klarifikasi. "Banyak yang menganggap ketupat membuat lebih cepat gemuk. Lalu, bagaimana kata dokter gizi?" ungkapnya, menggarisbawahi adanya mitos yang perlu diluruskan.

Ketupat memang menjadi salah satu menu yang wajib ada saat Hari Raya Idul Fitri, namun tidak sedikit juga masyarakat yang memilih untuk tetap mengonsumsi nasi seperti hari-hari biasanya.