Jakarta – Lanskap digital Indonesia di tahun 2026 dibayangi oleh ancaman siber yang semakin nyata dan mengkhawatirkan. Laporan terbaru dari perusahaan keamanan siber Kaspersky mengungkapkan lonjakan signifikan dalam jumlah serangan yang menargetkan perangkat pengguna di Indonesia sepanjang tahun 2025. Data ini memicu alarm, menyoroti kerentanan yang dihadapi individu, bisnis, dan bahkan acara-acara besar yang menarik perhatian publik.
Menurut laporan Kaspersky, tercatat hampir 40 juta ancaman siber yang menyasar perangkat pengguna di Indonesia selama tahun 2025. Angka yang fantastis ini menggarisbawahi bahwa keamanan digital bukan lagi sekadar imbauan, melainkan kebutuhan mendesak bagi setiap pengguna internet di Tanah Air. Fakta bahwa ancaman siber terhadap perangkat lokal masih menjadi salah satu sumber serangan terbesar menunjukkan kurangnya kesadaran dan praktik keamanan yang memadai di kalangan masyarakat.
Ratusan Ribu Serangan Setiap Hari: Statistik yang Mencemaskan
Lebih detail, laporan Kaspersky menunjukkan bahwa sepanjang Januari hingga Desember 2025, perusahaan mendeteksi 39.718.903 insiden ancaman lokal pada perangkat pengguna di Indonesia. Jika dirata-ratakan, jumlah ini setara dengan lebih dari 108 ribu serangan setiap hari. Bayangkan, setiap detik, perangkat di Indonesia menjadi target potensial kejahatan siber.
Yang lebih mengkhawatirkan, sekitar 31,5 persen pengguna dilaporkan pernah mengalami serangan malware yang berasal dari perangkat lokal. Data ini menempatkan Indonesia di peringkat ke-71 secara global dalam kategori ancaman pada perangkat lokal. Jenis serangan yang paling umum adalah penyebaran worm dan virus file, yang seringkali dilakukan melalui media penyimpanan eksternal seperti USB drive, CD, dan DVD.
Tim Kaspersky menyoroti bahwa metode penyebaran melalui perangkat penyimpanan eksternal masih efektif karena banyak pengguna yang masih melakukan transfer data secara offline. Kebiasaan ini, meskipun terkesan praktis, membuka celah besar bagi penyebaran malware dan virus yang dapat merusak sistem dan mencuri data.
WFH dan Peningkatan Risiko: Kombinasi yang Membahayakan
Ancaman siber di Indonesia semakin diperparah oleh tren kerja fleksibel (Flexible Working Arrangement atau FWA) yang didorong oleh pemerintah. Kebijakan ini, yang memungkinkan karyawan untuk bekerja dari rumah atau lokasi lain di luar kantor, menyebabkan perangkat kerja seperti laptop dan smartphone lebih sering terhubung ke jaringan rumah atau jaringan publik yang kurang aman.
Defi Nofitra, Country Manager Kaspersky Indonesia, menekankan bahwa perangkat kerja yang digunakan di luar kantor harus mendapatkan perlindungan yang sama dengan perangkat di lingkungan perusahaan. "Meskipun bekerja jarak jauh itu nyaman dan memiliki banyak manfaat, hal itu juga mengekspos individu dan bisnis pada berbagai risiko keamanan siber. Laptop dan ponsel pintar yang digunakan di luar perimeter perusahaan harus dilindungi seperti halnya yang berada di balik firewall kantor," ujarnya.