MEDIAKOMPETEN.CO.ID - Konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang telah memasuki fase hampir satu bulan ini mulai memperlihatkan dampak signifikan terhadap berbagai sektor ekonomi global, khususnya industri pariwisata. Meskipun menimbulkan tekanan, situasi ini juga membuka potensi peluang tak terduga bagi kawasan Asia Tenggara.

Kajian mendalam mengenai potensi dampak tersebut dilakukan oleh Asosiasi Pariwisata ASEAN (ASEANTA) bekerja sama dengan firma konsultan perjalanan terkemuka, Pear Anderson. Kedua entitas ini berupaya memetakan respons pasar terhadap ketidakstabilan geopolitik yang terjadi.

Kerja sama ini diwujudkan melalui pelaksanaan survei komprehensif yang menyasar para pelaku industri pariwisata di kawasan Asia Tenggara. Hasil survei ini dirilis untuk memberikan gambaran mengenai proyeksi pergerakan wisatawan mendatang.

Dilansir dari Travel Weekly Asia pada Sabtu (28/3/2026), survei tersebut melibatkan partisipasi aktif dari 157 perusahaan perjalanan yang tersebar di delapan negara anggota ASEAN. Data ini menjadi indikator penting bagi arah kebijakan pariwisata regional.

Hasil temuan survei menunjukkan adanya potensi penurunan minat perjalanan masuk menuju kawasan ASEAN yang cukup mengkhawatirkan. Proyeksi terburuk menunjukkan bahwa minat perjalanan dapat mengalami kontraksi hingga mencapai angka 74 persen dari estimasi normal.

Singapura, sebagai salah satu pusat pariwisata utama di Asia Tenggara, tercatat menunjukkan tingkat pesimisme tertinggi berdasarkan data yang terkumpul. Negara ini menghadapi tantangan signifikan dalam menjaga aliran kunjungan wisatawan mancanegara.

"Sebanyak 67% permintaan perjalanan masuk pada kuartal kedua tahun 2026 diproyeksikan akan lebih rendah dibandingkan dengan perkiraan awal," kata perwakilan dari survei tersebut, menggarisbawahi kekhawatiran serius di kalangan operator perjalanan Singapura.

Meskipun proyeksi awal menunjukkan adanya penurunan signifikan, analisis lebih lanjut oleh ASEANTA diharapkan dapat mengidentifikasi strategi mitigasi dan mencari segmen pasar alternatif yang mungkin tertarik berkunjung ke ASEAN di tengah kondisi global saat ini.

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber Referensi: Travel.detik. Kami menggunakan teknologi AI untuk menyajikan informasi ini kembali.